Sejarah

Surakarta Selayang Pandang

Surakarta atau lebih dikenal dengan Kota Solo, tidak bisa dilepaskan dengan beberapa tempat yang mengandng nilai sejarah dan berhubungan dengan beridirnya Kota Solo dan Keraton Surakarta Hadiningrat.

Dari berbagai tempat bersejarah tersebut, salah satu desa yang menjadi cikal bakal berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada tahun 1745 yakni Desa Sala dan daerah Kedung Lumbu yang saat ini menjadi lokasi Keraton Surakarta Hadiningrat.

Tulisan ini sebenaranya mencoba mengajak masyarakat yang tinggal di daerah Surakarta dan sekitarnya tanpa kecuali luar daerah bahkan provinsi, untuk mempelajari kembali sejarah kota Surakarta dan sekitarnya dengan cara yang berbeda.

Tentu menggunakan sumber-sumber yang dapat dipercaya hingga nantinya dapat memasuki bangunan maupun tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti halnya akses menuju eks Kantoor Bondo Loemakso. Dikarenakan tidak semua masyarakat mendapat akses keluar masuk gedung tersebut.

 

Kedung Lumbu Selayang Pandang

Kedung Lumbu merupakan dua suku kata yang apabila dipisahkan menjadi, “Kedung” yang memiliki arti sebuah cekungan yang berisi air tawar, dan “Lumbu” yang memiliki arti daun yang memiliki karakteristik seperti daun talas. Sehingga, apabila diartikan akan menjadi “Genangan Air Tawar yang Ditumbuhi dengan Tanaman Talas”.

Daerah sekitar Kedung Lumbu banyak menyimpan sejarah masa lalu yang erat hubungannya dengan Keraton dan Kompeni belanda daerah tersebut yakni alun-alun utara Keraton, Baluwarti yang berada di luar tembok Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan daerah Bathangan.

 

Rampogan Macan

Alun-alun utara erat kaitanya dengan tradisi “Rampogan Macan”, tradisi ini diselenggarakan untuk menerima tamu agung terutama pejabat Belanda atau Gubernur Jenderal. Acara “Rampogan Macan” ini diselenggarakan atas perintah SISKS Pakubuwana X, hewan-hewan yang dipergunakan dalam acara ini biasanya hasil buruan yang kemudian dipelihara hingga pertunjukan tiba.

Salah satu hewan yang wajib dipergunakan, yakni macan atau harimau dan diadu dengan banteng. Hingga saat ini, lokasi kandang macan yang dipelihara berada di sudut alun-alun utara tepatnya di rumah penjaga SD N Kauman, timur polsek pasar Kliwon.

Didukung dengan adanya bekas cakaran harimau diatas sebuah batu menunjukan bahwa, harimau tersebut memang sengaja dipelihara sebelum diadu.

Acara ini dilaksanakan pagi hari, dan puncak dari pertarungan antara harimau dan banteng pada siang hari. Para pembesar menyaksikan pertunjukan dari sebuah panggung yang dinamakan pagelaran, dan Sunan duduk berdampingan dengan Gubernur Jenderal. Sedangkan masyarakat pribumi, dengan rela berdesakan diluar arena demi menonton pertunjukan tersebut.

Rampogan Macan di Alun-alun Kraton Surakarta, 1865 Tampak Sunan bersama Gubernur Jendral duduk bersama di Pagelaran. Sumber: gahetna.nl.

Harimau dan banteng yang terlibat dalam tradisi ini biasanya mengalami nasib yang sama yakni menemui kematian. Banteng yang dikalahkan harimau ataupun sebaliknya harimau yang dikalahkan oleh banteng, hingga terdapat salah satu hewan yang menang nantinya akan dibunuh ramai-ramai oleh para abdi dalem kasunanan.

Tradisi “Rampogan Macan” ini sebenarnya memiliki makna dan simbol yang cukup besar, yakni gambaran tentang hegemoni kekuasaan raja Mataram, macan yang mati dengan luka parah merupakan penggambaran tokoh pewayangan Abimanyu saat menjadi Senapati saat perang Baratayuda.

Selain itu, pagelaran ini juga sebuah simbol keagungan dari kekuasaan Sultan yang memiliki batasan dengan rakyat. Disisi lain, macan merupakan simbol kekuasaan kolonial dan banteng adalah pribumi, atas tunduknya kekuasaan pribumi terhadap penjajah sehingga rampogan macan ini merupakan simbol pertempuran antara penduduk pribumi melawan penajah.

 

Kantoor Bondo Loemakso, Kelurahan Baluwarti

Lokasi selanjutnya dari perjalanan menysuri Kedung Lumbu sekarang yakni luar tembok Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tepatnya di kampung Baluwarti. Ya “Kantoor Bondo Loemakso”  didirikan sekitar tahun 1901, ditujukan untuk bank sekaligus tempat menggadaikan barang bagi masyarakat Baluwarti dan masyarakat umum.

Faktor utama didirikannya bangunan Kantoor Bondo Loemakso ini untuk mencegah terjadinya proses rentenir yang dilakukan oleh etnis Tionghoa saat itu, mengingat kekuatan ekonomi etnis Tionghoa di Surakarta sangat besar dan kuat.

Pada mulanya, gedung Kantoor Bondo Loemakso menggunakan salah satu ruangan yang ada di gedung “Societeiet Habiprojo” yang berada di Jalan Singosaren dan berada di wilayah Kelurahan Kemlayan Serengan Surakarta. Hingga tahun 1917 Kantoor ini dipindahkan di daerah Baluwarti hingga saat ini.

Ciri khas dari bangunan Kantor Bondo Loemakso ini tidak bisa dilepaskan dari Kolonial dan Keraton itu sendiri, terlihat dari ornamen bagian atas dari teras rumah yang melambangkan Keraton Kasunanan Surakarta dan harimau sebagai simbol Kolonial. Karena dalam pembangunanya terdapat campur tangan antara pihak Belanda dan pihak keraton sendiri.

 

Kyai Batang dan Surakarta Hadiningrat

Pintu masuk makan Raden Pabelan / Kyai Bathang. Sumber: Koleksi Pribadi.

Setelah berkunjung ke Kantoor Bondo Loemakso, perjalanan dilanjutkan menuju makam Kyai Bathang. Kasunanan Surakarta Hadiningrat tidak bisa dilepaskan dari peran Kyai Bathang dan Ki Gede Sala.

Pada masa kerajaan Pajang di Kartasura, Putera Tumenggung Mayang yang sekaligus abdi dalem kerajaan Pajang bernama Raden Pabelan dibunuh oleh Amangkurat II setelah ketahuan bermain asmara dengan Puteri Sekar Kedaton atau lebih dikenal dengan Ratu Hemas yang merupakan puteri Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang.

Peristiwa pembunuhan  terhadap Raden Pablean ini berlangsung di dalam Keraton Pajang. Setelah pembunuhan terjadi, mayat Raden Pabelan dihanyutkan / “dilarung” menuju sungai Lawiyan atau sungai braja. Seiring berjalanya waktu dan arus sungai hingga akhirnya mayat tersebut menepi  / “Nyangkut” di pinggir sungai dekat dengan Desa Sala, karena terhalang ranting-ranting pohon.

Peristiwa mayat berada di sungai Braja ini pertama kali diketahui oleh Bekel Desa Sala yakni Kyai Sala waktu dini hari. Pada saat itu Kyai Sala pergi menuju sungai, beliau melihat mayat manusia berada di pinggir sungai lantas beliau mendorong mayat tersebut supaya hayut kembali. Akan tetapi, pagi hari berikutnya mayat tersebut sudah kembali ke posisi sebelumnya.

Setelah melihat keadaan dimana mayat tersebut kembali ke lokasi awal hingga 3 kali, diputuskanlah Kyai Sala untuk “Maneges” atau bertapa untuk meminta petunjuk Tuhan Yang Maha Esa atas peristiwa tersebut.

Setelah melakukan pertapaan selama tiga hari tiga malam, Kyai Sala mendapat petunjuk dari seseorang yang disinyalir sebagai Raden Pabelan untuk memakamkan dengan layak mayat tersebut berada.

Dengan kebesaran hati Kyai Sala menuruti keinginannya yakni memakamkan di dekat desa Sala. Akan tetapi, dikarenakan namanya tidak diketahui maka mayat tersebut diberi nama Kyai Bathang, yang berarti mayat. Dan lokasi dimana Kyai Bathang berada diberi nama Bathangan, akan tetapi hanya tubuhnya yang dimakamkan disini, sedangkan kepalanya berada di wilayah Kleco.

Dengan adanya Kyai Bathang, desa Sala semakin raharja dikarenakan nama Sala sama halnya dengan “Raharja” atau aman, tenteram dan serba kecukupan bagi masyarakat desa Sala.

Kondisi inilah yang mengakibatkan Sunan Paku Buwana II ketika bertahta di Kartasura, memerintahkan kepada Kyai Tohjaya, Kyai Yasadipura I dan RT. Padmanegara untuk mengupayakan desa Sala dapat dipergunakan sebagai kerajaan baru.

Sehingga, ketiga Kyai tersebut beranjak menuju desa Sala untuk melihat kondisi saat itu. Setibanya di desa Sala, ketiga utusan tersebut mengelilingi rawa-rawa yang berada di sekitar desa Sala. Tidak berselang lama, mereka mendapatkan sumber mata air yang dinamakan “Tirta Amerta Kamandanu” yang bermakna “Air Kehidupan”.

Setelah penemuan sumber mata air tersebut dilaporkan kepada Sunan, maka beliau memutuskan bahwa desa Sala resmi dijadikan sebagai pusat kerajaan baru. Sehingga, Sunan segera memerinthkan agar pembangunan Kerajaan segera dimulai kepada para abdi dalem dan sentana dalem.

Tugas para abdi dan sentana dalem yakni meminta batu bata sejumlah luas wilayah mancanegara wetan dan kulon, yang kemudian digunakan untuk menutup rawa di desa Sala. Akan tetapi, volume mata air tawar yang keluar tersebut tidak kunjung berhenti meskipun sudah ditutup menggunakan ribuan batu bata dari berbagai daerah di mancanegara.

Mengetahui hal tersebut, Panembahan Wijil dan Kyai Yasadipura melakukan bertapa selama tujuh hari tujuh malam. Hingga pada malam hari Anggara Kasih atau Selasa Kliwon tanggal 28 Sapar, Jinawal 1669 (1473 Masehi), Kyai Yasadipura mendapat wahyu yang berarti “Hai, kalian yang bertapa, ketahuilah bahwa pusat rawa tersebut tidak dapat ditutup karena menjadi tembusan menuju ke Laut Selatan. Akan tetapi apabila ingin kalian sumbat gunakanlah Gong Kyai Sekar Delima, Daun Lumbu atau Talas dan Kepala Ronggeng disitulah pasti berhenti keluarnya mata air.

Akan tetapi besuk kedhung itu tidak akan mengalir, tetapi juga tidak berhenti mengeluarkan air, kekal tidak dapat disumbat selama-lamanya”. Mendengar kabar yang disampaikan oleh abdi dalem, Sunan merasa senang dan bersabda bahwa “Tledhek” berarti sepuluh ribu ringgit. Gong Sekar Delima berarti “gangsa”, bibir atau ujar (perkataan).

Sehingga hal ini merupakan perumpamaan, Gong Sekar Delima menjadi buah bibir yang menggambarkan asal mula / bakal desa yakni Kyai Gede Sala. Alasan desa Sala terpilih menjadi Kerajaan baru didasarkan pada dua hal yakni, kondisi geografis dan religiusitas.

Selain itu, desa Sala memiliki tenaga kerja yng banyak, sehingga VOC dengan mudah mendirikan Benteng untuk mengawasi gerak-gerik Keraton dan Benteng tersebut bernama Benteng Vastenburg.

Pembangunan Keraton mulai dilakukan setelah rawa tersebut berhasil dikeringkan dan dibersihkan, tanah yang dipakai untuk membangun Keraton diambil dari desa Talawangi atau sekarang lebih dikenal dengan Kadipolo. Kata Surakarta diambil dari kata Karta dan Kerta.

Kartasura pada masa Amangkurat II bernama Wanakerta yang memiliki arti berani berperang. Kerta atau Karta yang berarti Tenteram seperti jaman kejayaan Mataram.

Sehingga, keturunan Mataram mengharapkan kejayaan dan ketenteraman kembali Mataram seperti ketika berada di ibukota Karta. Permulaan pembangunan ditandai dengan sengkalan atau peribahasa “Jalma Sapta Amayang Bawana” atau 1670 Jawa / 1744 M.

 

Kedung Lumbu Kulon

Daerah Kedung Lumbu kulon, juga terdapat beberapa lokasi yang masih berhubungan dengan Sunan Paku Buwana Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan pemerintah kolonial.

Salah satu lokasi tersebut yakni Ndalem Hadiwijaya yang masih memiliki hubungan darah dengan SISKS Pakubuwana X, dan rumah milik etnis Arab dimana terdapat pintu keluar darurat yang terhubung hingga tiga rumah dengan tujuan mengamankan diri apabila Belanda menyerang.

Disisi lain, letak desa Sala yang berada dekat dengan Bengawan Sala yang sejak dahulu memiliki arti dan sejarah pentih dalam hubungan antara Kerajaan Jawa Tengah dan Jawa Timur di bidang sosial, ekonomi dan militer.

Kedung Lumbu dan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sendiri tidak dapat dilepaskan hubunganya, terlebih ketika keraton berdiri tepat diatas rawa yang belum didatangi oleh masyarakat.

Dengan keberadaan Ki Gede Sala selaku seespuh desa Sala, maka Keraton Kasunanan Surakarta yang awalnya berada di Kartasura dengan adanya geger pecinan memaksa untuk pindah keraton. Dan desa Sala lah yang sebenarnya berupa rawa-rawa akhirnya yang dipilih menjadi kerajaan.

Sumber: kompasiana.com

Leave a Comment